Walikota Malang Perintahkan Disporapar Kegiatan Kampung Klasik Merjosari Dimasukan Agenda Resmi Pariwisata Daerah

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Dan Ketua RW XI Pardiman
MALANG,KRJATIM.COM,- –Merawat Tradisi, Menghidupkan Ruang dan Waktu, Salah satu tema yang dibuat oleh masyarakat yang ada di Kampung Klasik RW XI, Kelurahan Merjosari, Kota Malang kegiatan kerakyatan itu dibuka oleh Walikota Malang Wahyu Hidayat Rabu (26/8) 2026.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi pengurus RW XI dan warga setempat atas inovasi swadaya yang dihadirkan setiap tahun”Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya mengapresiasi kegiatan pada malam hari ini yang diinisiasi oleh RW XI Kelurahan Merjosari. Ini luar biasa, dari sekian banyak RW yang saya kunjungi terkait kearifan lokal atau budaya, Kampung Klasik ini memang berbeda,” ujar Wahyu Hidayat di hadapan ratusan warga.Wahyu menyoroti keunikan tata kelola festival yang menyajikan konsep tematik berbeda selama empat tahun berturut-turut. Konsep segar ini membuat festival tersebut selalu dinantikan masyarakat luas.”Pak RW tadi menyampaikan, kalau sudah masuk bulan Agustus, masyarakat sudah bertanya-tanya kapan Kampung Klasik dimulai. Penjual dan pengunjungnya pun tidak hanya dari RW XI atau Merjosari saja, tetapi juga dari kelurahan dan kecamatan lain,” tambahnya.
Lebih lanjut, Wali Kota menilai festival ini menjadi sarana edukasi kebudayaan sekaligus penggerak ekonomi melalui ragam kuliner legendaris tempo dulu.Melihat besarnya potensi daya tarik wisatawan, Wahyu Hidayat meminta Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang untuk memasukkan Kampung Klasik ke dalam agenda pariwisata resmi daerah.”Ini tentu menjadi daya tarik di Kota Malang. Nanti dari Disporapar bisa menyampaikan kepada wisatawan yang datang. Kalender wisatanya bisa disusun kembali oleh Pak Kadisporapar,” tegasnya.
Ketua RW XI Merjosari, H. Pardiman, mengatakan, Kampung Klasik sejak awal dirancang bukan sekadar untuk mempercantik lingkungan atau membuat kampung terlihat meriah.Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk belajar, berkarya sekaligus memperkuat kebersamaan.“Jadi Kampung Klasik ini bukan semata-mata untuk gagahan. Kami ingin ada misi yang jelas. Ada misi pendidikan, nasionalisme, ekonomi, dan budaya. Empat hal ini yang terus kami bangun dari tahun ke tahun,” ujar Pardiman.
Misi pendidikan salah satunya diwujudkan melalui keterlibatan anak-anak dalam berbagai kegiatan lingkungan.Sebelum Kampung Klasik digelar, warga mengadakan lomba kebersihan antar-RT dengan melibatkan anak-anak. Mereka diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Dahulu kami mulai dari lomba kebersihan antar-RT. Anak-anak kami libatkan, supaya mereka tidak hanya melihat kampung ini sebagai tempat tinggal, tetapi juga belajar bagaimana menjaga lingkungan dan bekerja bersama,” katanya.
Tidak berhenti di sana, Kampung Klasik IV juga menghadirkan pelatihan digital branding dan pengolahan kopi. Kegiatan tersebut diharapkan memberikan keterampilan yang dapat dimanfaatkan warga.
“Di hari kedua nanti ada pelatihan digital branding, ada juga pelatihan pengolahan kopi. Jadi kami ingin kegiatan ini memberikan pengetahuan yang bisa dibawa pulang dan dimanfaatkan oleh warga,” ujar Pardiman.
Semangat nasionalisme juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Kampung Klasik. Warga menghubungkan kegiatan tersebut dengan perjuangan para pendahulu dan semangat Proklamasi Kemerdekaan.
“Kami ingin semangat nasionalisme itu tetap hidup. Karena ini dalam rangka HUT Kemerdekaan, selalu kami kaitkan dengan perjuangan dan semangat Proklamasi. Anak-anak juga harus tahu bahwa kemerdekaan ini diperoleh melalui perjuangan,” tuturnya.
Sementara dalam misi budaya, Kampung Klasik IV menghadirkan anjungan budaya dengan mengangkat tema Jawa Timuran.
Setiap RT diberikan ruang untuk menampilkan konsep dan identitas budaya yang berbeda. Ada yang mengangkat budaya Bondowoso, Tengger, Banyuwangi dan berbagai kekayaan budaya Jawa Timur lainnya.
“Setiap RT kami beri ruang untuk berkreasi. Ada yang mengangkat budaya Bondowoso, Tengger dan berbagai identitas Jawa Timur lainnya. Jadi anak-anak dan warga bisa belajar bahwa Jawa Timur itu punya kekayaan budaya yang sangat beragam,” jelas Pardiman.
Selain pendidikan dan budaya, Kampung Klasik juga menjadi ruang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Tahun ini, sekitar 95 pelaku UMKM dari Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga Kota Batu ikut ambil bagian. Kehadiran pelaku usaha tersebut membuat Kampung Klasik tidak hanya menjadi kegiatan warga RW XI, tetapi juga membuka ruang interaksi ekonomi dengan
Menurutnya, keterlibatan UMKM sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat kegiatan. Warga tidak hanya menikmati kemeriahan perayaan kemerdekaan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengenalkan produk dan mengembangkan usaha.
Selama empat tahun berjalan, Kampung Klasik RW XI Merjosari pun terus berkembang. Dari kegiatan kampung untuk memperingati kemerdekaan, kini menjadi ruang bersama untuk belajar, berkreasi, menggerakkan ekonomi, sekaligus merawat budaya.(nyo)







