banner 468x60

Di Gresik 30 Orang Positip Korona , Satu Terpapar dari Pabrik Sampoerna

banner 160x600
banner 468x60

GRESIK (KORANRAKYATJATIM.COM) Kembali warga Gresik berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 meninggal dunia. Warga itu berasal dari Desa Sidojangkung, Menganti. Karena berstatus PDP, pemakamannya Jumat (1/5) dilaksanakan sesuai protokol kesehatan.

           Menurut drg Syaifuddin Ghozali, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Gresik, pasien yang berusia 60 tahun itu memiliki riwayat sakit diabetes dan mengalami sesak napas. ”Sebelumnya berobat ke RS di Surabaya pada Kamis (30/4),” jelasnya.

Karena kondisi itu, lanjut dia, yang bersangkutan kemudian ditetapkan sebagai PDP. Ternyata, warga itu mengembuskan napas terakhir Jumat (1/5) sekitar pukul 05.00. Pemakaman jenazah langsung dilakukan oleh tim medis dari Puskesmas Menganti dengan prosedur penanganan Covid-19.

          ”Jadi, status terakhir, yang bersangkutan masih PDP. Perkembangannya masih menunggu hasil tes swab,” ujar pria yang juga kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik itu.

Dengan tambahan tersebut, jumlah PDP yang meninggal sebanyak enam orang. Sementara itu, kemarin pasien terkonfirmasi positif di Gresik kembali bertambah. ”Ada tambahan tiga pasien positif,” kata Syaifuddin. Dengan tambahan itu, total pasien positif di Gresik menjadi 30 orang. Perinciannya, 20 pasien dirawat, 5 lainnya sembuh, dan 5 orang meninggal.

           Dia menjelaskan, awalnya pasien positif nomor 28 berstatus PDP. Pasien dari Kecamatan Kebomas itu meninggal dunia. ”Hari ini (kemarin, Red), tes swab yang bersangkutan keluar dan positif. Dan menjelang siang, beliau meninggal,” papar mantan kepala UPT Puskesmas Bungah itu.

Hasil tracing, lanjut dia, menunjukkan bahwa pasien itu berasal dari Surabaya. Sementara itu, pasien positif nomor 29 berasal dari Kecamatan Duduksampeyan. Tepatnya Desa Tambak Rejo. ”Sebelumnya sebagai PDP. Hingga kini dirawat di RS Gresik. Untuk asal persebarannya, masih dilakukan tracing,” ungkap alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember itu.

           Lalu, pasien positif nomor 30 berasal dari klaster pabrik rokok Sampoerna, Surabaya. Yang bersangkutan warga Desa/Kecamatan Menganti. ”Kemarin yang bersangkutan tidak masuk sebagai PDP Gresik. Sebab, sebelumnya masih dirawat RS swasta di Surabaya,” ujarnya.

Warga Makin Sadar untuk Patuhi PSBB

        Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Gresik memasuki hari keempat kemarin (1/5). Petugas gabungan semakin intensif melaksanakan tugasnya untuk mengawal kebijakan PSBB. Petugas juga mulai memberikan sanksi teguran dan tertulis kepada pelanggar.

”Secara umum, makin tumbuh kesadaran masyarakat dalam melaksanakan aturan PSBB guna menekan persebaran Covid-19. Namun, memang masih ada yang belum patuh. Misalnya, warung yang melayani pembeli di tempat, bukan takeaway. Kemudian, ada yang tetap menyediakan wifi,” kata Kepala Satpol PP Gresik Abu Hasan.

           Padahal, sesuai Peraturan Bupati Gresik Nomor 12 Tahun 2020 tentang PSBB, seluruh aktivitas fasilitas umum, tempat ibadah, hingga warung kopi harus dibatasi. Tujuannya, menghindari kerumunan yang memungkinkan persebaran virus korona. ”Seharusnya hanya melayani pesanan, kemudian dibungkus,” jelas Hasan.

        Sesuai dengan skema penerapan sanksi dalam PSBB, lanjut dia, pihaknya sudah memberikan ”kartu kuning” yang berupa imbauan dan teguran bagi pemilik warung yang masih melanggar. ”Akan terus kami evaluasi dan pantau. Kalau masih bandel, kami beri teguran dan tindakan tegas. Termasuk, mencabut izin,” terangnya.

         Hasan menambahkan, selama PSBB yang berlangsung 14 hari, petugas akan terus melaksanakan operasi secara acak. Baik pagi, sore, maupun malam. ”Khusus malam hari, kami melakukan operasi gabungan dengan TNI-Polri. Itu untuk memantau efektivitas jam malam. Sesuai ketentuan, dilarang beraktivitas di luar mulai pukul 21.00 sampai 04.00,” paparnya.

         Sebelumnya, Kapolres Gresik AKBP Kusworo juga menegaskan, sosialisasi pemberlakuan PSBB sudah dilaksanakan selama tiga hari pertama. Karena itu, pihaknya akan menerapkan tindakan atau sanksi bagi mereka yang membandel. ”Untuk pemberlakuan jam malam, mayoritas warga Gresik sudah tertib dengan tetap berada di rumah,” ujarnya.

Sementara itu, upaya untuk mencairkan bantuan kepada masyarakat terdampak pandemi Covid-19 terus dilakukan oleh Pemkab Gresik. Bahkan, kriteria yang berhak menerima pun tidak lagi luas. Hal tersebut sesuai dengan kesepatan eksekutif dan legislatif dalam rapat koordinasi bersama kemarin (1/5).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gresik Hermanto S. Sianturi mengatakan, para penerima jaring pengaman sosial (JPS) itu akan berbasis data hasil keputusan musyawarah desa (musdes) atau kelurahan. Agar dana itu cepat cair, pemerintah desa harus segera menyelesaikan musdes. Kemudian, nama-nama itu diserahkan kepada pemkab. ”Kami juga nanti minta untuk diumumkan secara terbuka nama-nama penerima bantuan,” ujarnya.

Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, berdasar hasil kesepakatan antara dewan dan pemkab, memang salah satu elemen yang mendapatkan JPS adalah para guru ggaji, guru swasta nonsertifikasi, dan sejenisnya. Sebab, mereka juga termasuk profesi yang terdampak. ”Mereka kehilangan pekerjaan akibat pembatasan sosial ini,” jelasnya.

Namun, pola distribusi tidak boleh dobel penerimaan. Dengan begitu, yang sudah terdata dalam PKH (program keluarga harapan), BPNT (bantuan pangan nontunai), dan BLT dana desa tidak berhak menerima JPS yang bersumber dari realokasi dana APBD 2020. Besarnya Rp 600 ribu per kepala keluarga (KK) selama tiga bulan.(cn)

Email Autoresponder indonesia
No Response

Leave a reply "Di Gresik 30 Orang Positip Korona , Satu Terpapar dari Pabrik Sampoerna"